Artikel

Jagung untuk bahan pangan

Sifat fisik bahan pakan merupakan hal penting dalam industri pakan. Efisiensi proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam industri pakan tidak hanya membutuhkan informasi tentang komposisi kimia bahan dan nilai nutrisi saja tetapi juga sifat fisiknya, sehingga kerugiaan selama pengelolaan bahan pakan dapat dihindari.

Berdasarkan tujuan penggunaan atau pemanfaatannya, komoditas jagung di Indonesia dibedakan atas jagung untuk bahan pangan. Jagung sebagai bahan pangan, dapat dikonsumsi langsung maupun perlu pengolahan seperti jagung rebus, bakar, maupun dimasak menjadi nasi. Sebagai bahan pakan ternak, biji pipilan kering digunakan untuk pakan ternak bukan ruminan seperti ayam, itik, puyuh, dan babi, sedangkan seluruh bagian tanaman (brangkasan) jagung atau limbah jagung, baik yang berupa tanaman jagung muda maupun jeraminya dimanfaatkan untuk pakan ternak ruminansia.

Jagung untuk bahan pangan

Selain itu, jagung juga berpotensi sebagai bahan baku industri makanan, kimia farmasi dan industri lainnya yang mempunyai nilai tinggi, seperti tepung jagung, gritz jagung, minyak jagung, dextrin, gula, etanol, asam organik, dan bahan kimia lain. Disamping itu, bahan tanaman jagung yang umum disebut benih, merupakan bagian terpenting dalam suatu proses produksi jagung itu sendiri.

Tinggi rendahnya produksi jagung tergantung pada tipe jagung yang dipakai, pemupukan serta cuaca. Jagung merupakan pakan yang sangat baik untuk ternak. Jagung sangat disukai ternak dan pemakaiannya dalam ransum ternak tidak ada pemabatasan, kecuali untuk ternak yang akan dipakai sebagai bibit. Pemakaian yang berlebihan untuk ternak ini dapat menyebabkan kelebihan lemak.

Jagung tidak mempunyai anti nutrisi atau sifat pencahar. Walaupun demikian pemakaian dalam ransum ternak terutama untuk ternak bibit perlu dibatasi karena penggunaan jagung yang tinggi dapat mengakibatan sulitnya ternak untuk berproduksi. Disamping itu penggunaannya pada ternak muda yang akan dipakai bibit perlu dibatasi karena selain tidak ekonomis bila dipergunakan tinggi dalam ransum juga karena penggunaan yang terlampau tinggi dapat menyulitkan ternak tersebut untuk berproduksi.

Secara kualitatif kualitas butiran biji jagung dapat diuji dengan menggunakan bulk density atau uji jagung. Bulk density butiran jagung yang baik adalah 626,6 g/liter, sedangkan untuk jagung giling yang baik berkisar antara 701,8-722,9 g/liter. Makin banyak jagung yang mengapung berarti makin banyak jagung yang rusak. Selain itu uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna dan bau dapat dipakai untuk mengetahui kualitas jagung yang baik.

Jagung merupakan butiran yang mempunyai total nutrient tercerna (TDN) dan net energy (NE) yang tinggi. Kandungan TDN yang tinggi (81,9%) adalah karena : (1) jagung sangat kaya akan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N) yang hampir semuanya pati, (2) jagung mengandung lemak yang tinggi dibandingkan semua butiran kecuali oat, (3) jagung mengandung sangat rendah serat kasar, oleh karena itu mudah dicerna. Kandungan protein jagung rendah dan defisiensi asam amino lisin. Dari butiran yang ada, hanya jagung kuning yang mengandung karoten. Kandungan karoten akan menurun dan atau hilang selama penyimpanan.

Bahan kering dari jagung sebesar 88,0% dengan kadar abu sebesar 2,41%. Jumlah lemak kasar yang dimiliki oleh jagung sebesar 5,89% sedangkan jumlah protein kasarnya sebanyak 10,82%. Kandungan mineral Ca dan P jagung secara berturut-turut adalah sebesar 0.05% dan 0,31%. Kandungan serat kasar jagung hanya sebesar 3,37% sehingga bahan pakan ini memiliki nilai kecernaan yang tinggi dibanding bahan lainnya.

Show More

Related Articles

Permintaan Penawaran

Segera lakukan permintaan penawaran sekarang juga untuk mendapatkan harga khusus!

Nama Anda (wajib)

Email (wajib)

Nomor handphone (wajib)

Pesan Anda / Produk yang diminta

[recaptcha]

Tinggalkan Balasan

Close
Close